TERAPI
RASIONAL EMOTIF
A. Pendahuluan
Rational Emotive Therapy atau Teori
Rasional Emotif mulai dikembangan di Amerika pada tahun 1960-an oleh Alberl
Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik yang juga seorang
eksistensialis dan juga seorang Neo Freudian. Teori ini dikembangkanya ketika ia
dalam praktek terapi mendapatkan bahwa sistem psikoanalisis ini mempunyai
kelemahan-kelemahan secara teoritis (Ellis, 1974).
Teori Rasional Emotif ini merupakan sintesis baru dari Behavior Therapy yang klasik (termasuk Skinnerian Reinforcement dan Wolpein Systematic Desensitization). Oleh karena itu Ellis menyebut terapi ini sebagai Cognitive Behavior Therapy atau Comprehensive Therapy.
Konsep ini merupakan sebuah aliran baru dari Psikoterapi Humanistik yang berakar pada filsafat eksistensialisme yang dipelopori oleh Kierkegaard, Nietzsche, Buber, Heidegger, Jaspers dan Marleu Ponty, yang kemudian dilanjutkan dalam bentuk eksistensialisme terapan dalam Psikologi dan Psikoterapi, yang lebih dikenal sebagai Psikologi Humanistik.
Teori Rasional Emotif ini merupakan sintesis baru dari Behavior Therapy yang klasik (termasuk Skinnerian Reinforcement dan Wolpein Systematic Desensitization). Oleh karena itu Ellis menyebut terapi ini sebagai Cognitive Behavior Therapy atau Comprehensive Therapy.
Konsep ini merupakan sebuah aliran baru dari Psikoterapi Humanistik yang berakar pada filsafat eksistensialisme yang dipelopori oleh Kierkegaard, Nietzsche, Buber, Heidegger, Jaspers dan Marleu Ponty, yang kemudian dilanjutkan dalam bentuk eksistensialisme terapan dalam Psikologi dan Psikoterapi, yang lebih dikenal sebagai Psikologi Humanistik.
B. Konsep dasar
Terapi rasional emotif (TRE) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan
asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional
dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki
kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan
mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan
mengaktualisasikan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan
ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali
kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan, takhayul, intoleransi,
perfeksionisme, dan mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi
diri.
Terapi rasional emotif menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang
tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah
ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakat. Manusia dilahirkan dengan
kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan,
tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika
tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya
sendiri ataupun orang lain.
TRE menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara
stimulan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan- perasaan
biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik.
Menurut Allbert Ellis, manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri. Sebagai akibatnya, mereka akan bertingkah laku berbeda dengan cara mereka bertingkah laku di masa lampau. Jadi, karena bisa berpikir dan bertindak sampai menjadikan dirinya berubah, mereka bukan korban-korban pengkondisian masa lampau yang pasif.
Menurut Allbert Ellis, manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri. Sebagai akibatnya, mereka akan bertingkah laku berbeda dengan cara mereka bertingkah laku di masa lampau. Jadi, karena bisa berpikir dan bertindak sampai menjadikan dirinya berubah, mereka bukan korban-korban pengkondisian masa lampau yang pasif.
Unsur pokok terapi rasional-emotif
adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah Menurut
Ellis, pilaran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih, dan dalam
prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh
pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu
proses sikap dan kognitif yang intristik. Pikiran-pikiran seseorang dapat
menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat
menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi
dan sebaliknya emosi mempengarulu pikiran. Pikiran seseorang dapat menjadi
emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran. Pandangan
yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep hahwa banyak perilaku
emosional indiuidu yang berpangkal pada “self-talk:” atau “omong diri” atau
internatisasi kalimat-kalimat yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya
sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif.
Adanya orang-orang yang seperti itu, menurut Eilis adalah
karena:
(1) terlalu bodoh
untuk berpikir secara jelas,
(2) orangnya cerdas tetapi tidak tahu
bagaimana berpikir secara cerdas tetapi tidak tahu bagaimana herpikir secara jelas dalam hubungannya dengan keadaan
emosi,
(3) orangnya cerdas dan cukup berpengetahuan tetapi
terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan seeara memadai.
Teori
Kepibadian A-B-C-D-E
TRE dimulai dengan ABC:
A. Adalah activating experiences atau pengalaman-pengalaman pemicu, seperti kesulitan-kesulitan keluarga, kendala-kendala pekerjaan, trauma-trauma masa kecil, dan hal-hal lain yang kita anggap sebagai penyebab ketidak bahagiaan.
B. Adalah beliefs, yaitu keyakinan-keyakinan, terutama yang bersifat irasional dan merusak diri sendiri yang merupakan sumber ketidakbahagiaan kita.
C. Adalah consequence, yaitu konsekuensi-konsekuensi berupa gejala neurotik dan emosi-emosi negatif seperti panik, dendam dan amarah karena depresi yang bersumber dari keyakinan-keyakinan kita yang keliru.
Pada dasarnya, kita merasakan sebagaimana yang kita pikirkan. Maka, alangkah lebih baiknya apabila kita selalu memiliki perasaan positif.
Tindakan palilng efisien untuk membantu orang-orang dalam membuat perubahan-perubahan kepribadiannya adalah dengan mengkonfrontasikan mereka secara langsung dengan filsafat hidup mereka sendiri, menerangkan kepada mereka bagaimana cara berfikir secara logis, sehingga mengajari mereka untuk mampu mengubah atau bahkan menghapuskan keyakinan-keyakinan irasionalnya
Ellis menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.
Dalam pelaksanaan TRE ini, terapis harus benar-benar mengenal dirinya sendiri dengan baik, sehingga ia bisa memisahkan falsafah hidupnya dan tindak memaksakan keyakinannya pada klien. Disamping itu, terapis juga harus mengetahui timing yang tepat untuk memberikan dorongan pada klien. Terapis harus menghindari terjadinya indoktrinasi atas diri klien. Yang perlu dilakukan terapis hanyalah menyampaikan kepada klien apa yang salah dan bagaimana klien harus mengubahnya menjadi benar.
Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan kesepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan menyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri.
Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering.
Ellis juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang “diprogram” untuk selalu menanggapi “pengondisian-pengondisian” semacam ini. Keyakinan-keyakinan irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut. Ada beberapa jenis “pikiran-pikiran yang keliru” yang biasanya diterapkan orang, di antaranya:
1. Mengabaikan hal-hal yang positif,
2. Terpaku pada yang negatif,
3. Terlalu cepat menggeneralisasi.
TRE dimulai dengan ABC:
A. Adalah activating experiences atau pengalaman-pengalaman pemicu, seperti kesulitan-kesulitan keluarga, kendala-kendala pekerjaan, trauma-trauma masa kecil, dan hal-hal lain yang kita anggap sebagai penyebab ketidak bahagiaan.
B. Adalah beliefs, yaitu keyakinan-keyakinan, terutama yang bersifat irasional dan merusak diri sendiri yang merupakan sumber ketidakbahagiaan kita.
C. Adalah consequence, yaitu konsekuensi-konsekuensi berupa gejala neurotik dan emosi-emosi negatif seperti panik, dendam dan amarah karena depresi yang bersumber dari keyakinan-keyakinan kita yang keliru.
Pada dasarnya, kita merasakan sebagaimana yang kita pikirkan. Maka, alangkah lebih baiknya apabila kita selalu memiliki perasaan positif.
Tindakan palilng efisien untuk membantu orang-orang dalam membuat perubahan-perubahan kepribadiannya adalah dengan mengkonfrontasikan mereka secara langsung dengan filsafat hidup mereka sendiri, menerangkan kepada mereka bagaimana cara berfikir secara logis, sehingga mengajari mereka untuk mampu mengubah atau bahkan menghapuskan keyakinan-keyakinan irasionalnya
Ellis menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.
Dalam pelaksanaan TRE ini, terapis harus benar-benar mengenal dirinya sendiri dengan baik, sehingga ia bisa memisahkan falsafah hidupnya dan tindak memaksakan keyakinannya pada klien. Disamping itu, terapis juga harus mengetahui timing yang tepat untuk memberikan dorongan pada klien. Terapis harus menghindari terjadinya indoktrinasi atas diri klien. Yang perlu dilakukan terapis hanyalah menyampaikan kepada klien apa yang salah dan bagaimana klien harus mengubahnya menjadi benar.
Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan kesepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan menyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri.
Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering.
Ellis juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang “diprogram” untuk selalu menanggapi “pengondisian-pengondisian” semacam ini. Keyakinan-keyakinan irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut. Ada beberapa jenis “pikiran-pikiran yang keliru” yang biasanya diterapkan orang, di antaranya:
1. Mengabaikan hal-hal yang positif,
2. Terpaku pada yang negatif,
3. Terlalu cepat menggeneralisasi.
C. Proses konseling
1) Langkah pertama
1) Langkah pertama
Konselor berusaha menunjukkan bahwa
cara berfikir klien harus logis kemudian membantu bagaimana dan mengapa klien
sampai pada cara seperti itu, menunjukkan pola hubungan antara pikiran logis
dan perasaan yang tidak bahagia atau dengan gangguan emosi yang di alami nya.
2) Langkah kedua
Menunjukkan kepada klien bahwa ia mampu
mempertahankan perilakunya maka akan terganggu dan cara pikirnya yang tidak
logis inilah yang menyebabkan masih adanya gangguan sebagaimana yang di
rasakan.
3) Langkah ketiga
Bertujuan mengubah cara berfikir klien
dengan membuang cara berfikir yang tidak logis.
4) Langkah keempat
Dalam hal ini konselor menugaskan klien
untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata
Ж. Tujuan Konseling Rasional Emotif
Ellis menunjukkan bahwa banyak jalan yang digunakan dalam
TRE yang diarahkan pada satu tujuan utama, yaitu : " meminimalkan
pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh
filsafat hidup yang lebih realistik". Tujuan psikoterapis yang lebih baik
adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri merka telah
dan masih merupakan sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang dialami
oleh mereka.
Ringkasnya, proses terapeutik terdiri atas penyembuhan irasionalitas dengan rasionalitas. Karena individu pada dasarnya adalah makhluk rasional dan karena sumber ketidakbhagiaannya adalah irasionalitas, maka individu bisa mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Proses terapi, karenanya sebagian besar adalah proses belajar-mengajar. Menghapus pandangan hidup klien yang mengalahkan diri dan membantu klien dalam memperoleh pandangan hidup yang lebih toleran dan rasional.Tujuan dari Rational Emotive Theory adalah:
Ringkasnya, proses terapeutik terdiri atas penyembuhan irasionalitas dengan rasionalitas. Karena individu pada dasarnya adalah makhluk rasional dan karena sumber ketidakbhagiaannya adalah irasionalitas, maka individu bisa mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Proses terapi, karenanya sebagian besar adalah proses belajar-mengajar. Menghapus pandangan hidup klien yang mengalahkan diri dan membantu klien dalam memperoleh pandangan hidup yang lebih toleran dan rasional.Tujuan dari Rational Emotive Theory adalah:
- Memperbaiki
dan mengubah segala perilaku yang irasional dan tidak logis menjadi
rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan dirinya.
- Menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri
sendiri.
Ж.
Karateristik Rasional Emotif
v Aktif direktif artinya dalam
hubungan konseling atau terapeuitik, konselor atau terapis lebih aktif dalam
membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
v Kognitif rasional artinya hubungan
yang dibentuk harus berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan
pemecahan masalah yang rasional/masuk akal.
v Emotif eksperiensial artinya
hubungan yang dibentuk harus melihat aspek emotif klien dan mempelajari
sumber-sumber gangguan emosional.
v Behavioristik artinya hubungan yang
dibentuk harus menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan perilaku dalam diri
klien.
v Kondisional artinya hubungan dalam
rational emotif terapi dilakukan dengan membuat kondisi-kondisi tertentu
terhadap klien melalui berbagai teknik kondisioning untuk mencapai tujuan
terapi atau konseling.
D. Teknik-Teknik
terapi
Terapi realitas
bisa ditandai sebagai terapi yang aktif secara verbal. Prosedur – prosedurnya
difokuskan pada kekuatan-kekuatan dan potensi-potensi klien yang dihubungkan
dengan tingkah lakunya sekarang dan usahanya mencapai keberhasilan dalam hidup.
Dalam membantu klien untuk menciptakan identitas keberhasilan, teapis bisa
menggunakan beberapa teknik sebagai berikut :
- Terlibat dalam permainan peran dengan klien.
- Menggunakan humor.
- Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun.
- Membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang sesifik bagi tindakan.
- Bertindak sebagai model dan guru.
- Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi.
- Menggunakan "terapi kejutan vebal" atau sarkasme yang layak untuk mengkonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis.
- Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif.
Manusia berfikir, berperasaan dan bertindak secara serentak. Kaitan yang begitu erat menyebabkan jika salah satu saja menerima gangguan maka yang lain akan terlibat sama. Jika salah satu diobati sehingga sembuh, dengan sendirinya yang dua lagi akan turut terobati.
- Terlibat dalam permainan peran dengan klien.
- Menggunakan humor.
- Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun.
- Membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang sesifik bagi tindakan.
- Bertindak sebagai model dan guru.
- Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi.
- Menggunakan "terapi kejutan vebal" atau sarkasme yang layak untuk mengkonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis.
- Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif.
Manusia berfikir, berperasaan dan bertindak secara serentak. Kaitan yang begitu erat menyebabkan jika salah satu saja menerima gangguan maka yang lain akan terlibat sama. Jika salah satu diobati sehingga sembuh, dengan sendirinya yang dua lagi akan turut terobati.
Atas pandangan
itu, walaupun TRE lebih menitikberatkan aspek kognitif dalam perawatan, tetapi
aspek tingkah laku dan emosi turut diberi perhatian. Oleh sebab itulah dalam
TRE, terdapat tiga teknik yang besar: Teknik-teknik Kognitif; Teknik-teknik
Emotif dan Teknik-teknik Behavioristik.
1.
Teknik-Teknik Kognitif
Teknik-teknik kognitif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berfikir klien. Dewa Ketut menerangkan ada empat teknik besar dalam teknik-teknik kognitif :
a. Teknik Pengajaran - Dalam RET, konselor mengambil peranan lebih aktif dari pelajar. Teknik ini memberikan keleluasan kepada konselor untuk berbicara serta menunjukkan sesuatu kepada klien, terutama menunjukkan bagaimana ketidaklogikan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosi kepada klien tersebut.
b. Teknik Persuasif - Meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya kerana pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Konselor langsung mencoba meyakinkan, mengemukakan pelbagai argumentasi untuk menunjukkan apa yang dianggap oleh klien itu adalah tidak benar.
c. Teknik Konfrontasi - Konselor menyerang ketidaklogikan berfikir klien dan membawa klien ke arah berfikir yang lebih logik.
d. Teknik Pemberian Tugas - Konselor memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata. Misalnya, menugaskan klien bergaul dengan anggota masyarakat kalau mereka merasa dipencilkan dari pergaulan atau membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan caranya berfikir.
Teknik-teknik kognitif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berfikir klien. Dewa Ketut menerangkan ada empat teknik besar dalam teknik-teknik kognitif :
a. Teknik Pengajaran - Dalam RET, konselor mengambil peranan lebih aktif dari pelajar. Teknik ini memberikan keleluasan kepada konselor untuk berbicara serta menunjukkan sesuatu kepada klien, terutama menunjukkan bagaimana ketidaklogikan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosi kepada klien tersebut.
b. Teknik Persuasif - Meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya kerana pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Konselor langsung mencoba meyakinkan, mengemukakan pelbagai argumentasi untuk menunjukkan apa yang dianggap oleh klien itu adalah tidak benar.
c. Teknik Konfrontasi - Konselor menyerang ketidaklogikan berfikir klien dan membawa klien ke arah berfikir yang lebih logik.
d. Teknik Pemberian Tugas - Konselor memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata. Misalnya, menugaskan klien bergaul dengan anggota masyarakat kalau mereka merasa dipencilkan dari pergaulan atau membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan caranya berfikir.
2.
Teknik-Teknik Emotif
Teknik-teknik emotif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah emosi klien. Antara teknik yang sering digunakan ialah:
Teknik-teknik emotif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah emosi klien. Antara teknik yang sering digunakan ialah:
a. Teknik
Sosiodrama - Memberi peluang mengekspresikan pelbagai perasaan yang menekan
klien itu melalui suasana yang didramatisasikan sehingga klien dapat secara
bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan atau melalui gerakan
dramatis. (Teknik
sosiodrama yakni: teknik yang diberikan kepada klien yang tertekan perasaannya
(negative) dalam suasana didramatisasikan sehingga klien merasa bebas dalam
mengekspresikan dirinya.)
b. Teknik 'Self
Modelling' - Digunakan dengan meminta klien berjanji dengan konselor untuk
menghilangkan perasaan yang menimpanya. Dia diminta taat setia pada janjinya. (Teknik self
modeling yakni: teknik yang digunakan kepada klien membuat perjanjian serta
mengadakan komitmen bersama konselor demi menghilangkan perasaan atau tingkah
laku tertentu.)
c. Teknik
'Assertive Training' - Digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien
dengan pola perilaku tertentu yang diinginkannya. (Teknik assertive training yakni: teknik
yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien secara terus
menerus menyesuaikan dirinya dengan pola perilaku tertentu yang diinginkan.)
d.Teknik
behavioral yakni: teknik yang digunakan untuk mendorong klien kearah perilaku
yang rasional dan logis, dengan memberikan pujian verbal ataupun punishment.
Teknik ini dimaksud untuk membongkar system nilai dan keyakinan yang irrasional
pada klien dan menggantinya dengan system nilai yang positive.
e. Teknik Reinforcement - Mendorong klien ke arah
perilaku yang diingini dengan jalan memberi pujian dan hukuman. Pujian pada
perilaku yang betul dan hukuman pada perilaku negatif yang dikekalkan.
f. Teknik Social Modelling - Digunakan membentuk perilaku baru pada klien melalui peniruan, pemerhatian terhadap Model Hidup atau Model Simbolik dari segi percakapan dan interaksi serta pemecahan masalah.
Berdasarkan kepada penjelasan teknik di atas, dapat dilihat bahawa teknik terapi TRE ini bukan saja terbatas pada sisi konseling, tetapi juga berlaku di luar sesi konseling.
f. Teknik Social Modelling - Digunakan membentuk perilaku baru pada klien melalui peniruan, pemerhatian terhadap Model Hidup atau Model Simbolik dari segi percakapan dan interaksi serta pemecahan masalah.
Berdasarkan kepada penjelasan teknik di atas, dapat dilihat bahawa teknik terapi TRE ini bukan saja terbatas pada sisi konseling, tetapi juga berlaku di luar sesi konseling.
g.Teknik
imitasi yakni: teknik yang digunakan untuk ditiru oleh kliensecara kontinu
dengan maksud mengubah perilakunya sendiri yang negative.
h.Teknik
sosial modeling yakni: teknik yang digunakan untuk membentuk perilaku-perilaku
baru pada klien. Teknik ini dilakukan untuk klien dapat hidup dalam suasana
model sosial yang diharapkan dengan cara mengimitasi, mengobservasi, dan
menyesuaikan dirinya dengan sosial model yang dibuat.
iTeknik live model yakni: teknik yang digunakan
untuk menggambarkan perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi
interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial yang kompleks dalam
bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.
Neurosis adalah
pemikiran dan tingkah laku irasional. Gangguan-gangguan emosional berakar pada
masa kanak-kanak, tetapi dikekalkan melalui reindoktrinasi sekarang. Sistem
keyakinan adalah penyebab masalah-masalah emosional. Oleh karenanya, klien
ditantang untuk menguji kesahihan keyakinan-keyakinan tertentu. Metode ilmiah
diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
Emosi-emosi adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Ellis menyatakan bahwa "gangguan emosi pada dasarnya terdiri atas kalimat-kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis dan tidak bisa disahihkan, yang diyakini secara dogmatis dan tanpa kritik terhadapnya, orang yang terganggu beremosi atau bertindak sampai ia sendiri kalah".
TRE berhipotesis bahwa karena kita tumbuh dalam masyarakat, kita cenderung menjadi korban dari gagasan-gagasan yang keliru, cenderung mendoktrinasi diri dari gagasan-gagasan tersebut berulang-ulang dengan cara yang tidak dipikirkan dan autsugestif, dan kita tetap mempertahankan gagasan-gagasan yang keliru dalam tingkah laku overt kita. Beberapa gagasan irasional yang menonjol yang terus menerus diinternalisasikan dan tanpa dapat dihindari mengakibatkan kesalahan diri.
Emosi-emosi adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Ellis menyatakan bahwa "gangguan emosi pada dasarnya terdiri atas kalimat-kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis dan tidak bisa disahihkan, yang diyakini secara dogmatis dan tanpa kritik terhadapnya, orang yang terganggu beremosi atau bertindak sampai ia sendiri kalah".
TRE berhipotesis bahwa karena kita tumbuh dalam masyarakat, kita cenderung menjadi korban dari gagasan-gagasan yang keliru, cenderung mendoktrinasi diri dari gagasan-gagasan tersebut berulang-ulang dengan cara yang tidak dipikirkan dan autsugestif, dan kita tetap mempertahankan gagasan-gagasan yang keliru dalam tingkah laku overt kita. Beberapa gagasan irasional yang menonjol yang terus menerus diinternalisasikan dan tanpa dapat dihindari mengakibatkan kesalahan diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar