Jumat, 10 Februari 2012

TERAPI RASIONAL EMOTIF


TERAPI RASIONAL EMOTIF


A. Pendahuluan

Rational Emotive Therapy atau Teori Rasional Emotif mulai dikembangan di Amerika pada tahun 1960-an oleh Alberl Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik yang juga seorang eksistensialis dan juga seorang Neo Freudian. Teori ini dikembangkanya ketika ia dalam praktek terapi mendapatkan bahwa sistem psikoanalisis ini mempunyai kelemahan-kelemahan secara teoritis (Ellis, 1974).
Teori Rasional Emotif ini merupakan sintesis baru dari Behavior Therapy yang klasik (termasuk Skinnerian Reinforcement dan Wolpein Systematic Desensitization). Oleh karena itu Ellis menyebut terapi ini sebagai Cognitive Behavior Therapy atau Comprehensive Therapy.
Konsep ini merupakan sebuah aliran baru dari Psikoterapi Humanistik yang berakar pada filsafat eksistensialisme yang dipelopori oleh Kierkegaard, Nietzsche, Buber, Heidegger, Jaspers dan Marleu Ponty, yang kemudian dilanjutkan dalam bentuk eksistensialisme terapan dalam Psikologi dan Psikoterapi, yang lebih dikenal sebagai Psikologi Humanistik.

B. Konsep dasar
Terapi rasional emotif (TRE) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualisasikan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri.

Terapi rasional emotif menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakat. Manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain.

TRE menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara stimulan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan- perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik.
Menurut Allbert Ellis, manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri. Sebagai akibatnya, mereka akan bertingkah laku berbeda dengan cara mereka bertingkah laku di masa lampau. Jadi, karena bisa berpikir dan bertindak sampai menjadikan dirinya berubah, mereka bukan korban-korban pengkondisian masa lampau yang pasif.
Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah Menurut Ellis, pilaran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intristik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengarulu pikiran. Pikiran seseorang dapat menjadi emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran. Pandangan yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep hahwa banyak perilaku emosional indiuidu yang berpangkal pada “self-talk:” atau “omong diri” atau internatisasi kalimat-kalimat yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif.

Adanya orang-orang yang seperti itu, menurut Eilis adalah karena:
 (1) terlalu bodoh untuk berpikir secara jelas,
 (2) orangnya cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara cerdas tetapi tidak tahu bagaimana herpikir secara       jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi,
(3) orangnya cerdas dan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan seeara memadai.
Teori Kepibadian A-B-C-D-E
TRE dimulai dengan ABC:
A. Adalah activating experiences atau pengalaman-pengalaman pemicu, seperti kesulitan-ke­sulitan keluarga, kendala-kendala pekerjaan, trauma-trauma masa kecil, dan hal-hal lain yang kita anggap sebagai penye­bab ketidak bahagiaan.
B. Adalah beliefs, yaitu keyakinan-ke­yakinan, terutama yang bersifat irasional dan merusak diri sendiri yang merupakan sumber ketidakbahagiaan kita.
C. Adalah consequence, yaitu konsekuensi-konsekuensi berupa gejala neurotik dan emosi-emosi negatif seperti panik, dendam dan amarah karena depresi yang bersumber dari keyakinan-­keyakinan kita yang keliru.
Pada dasarnya, kita merasakan sebagaimana yang kita pikirkan. Maka, alangkah lebih baiknya apabila kita selalu memiliki perasaan positif.
Tindakan palilng efisien untuk membantu orang-orang dalam membuat perubahan-perubahan kepribadiannya adalah dengan mengkonfrontasikan mereka secara langsung dengan filsafat hidup mereka sendiri, menerangkan kepada mereka bagaimana cara berfikir secara logis, sehingga mengajari mereka untuk mampu mengubah atau bahkan menghapuskan keyakinan-keyakinan irasionalnya
Ellis menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini.
Seorang terapis harus me­lawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psi­kologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.
Dalam pelaksanaan TRE ini, terapis harus benar-benar mengenal dirinya sendiri dengan baik, sehingga ia bisa memisahkan falsafah hidupnya dan tindak memaksakan keyakinannya pada klien. Disamping itu, terapis juga harus mengetahui timing yang tepat untuk memberikan dorongan pada klien. Terapis harus menghindari terjadinya indoktrinasi atas diri klien. Yang perlu dilakukan terapis hanyalah menyampaikan kepada klien apa yang salah dan bagaimana klien harus mengubahnya menjadi benar.
Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan ke­sepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan me­nyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri.
Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering.
Ellis juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang “diprogram” untuk selalu menanggapi “pengondisian-pengondisian” semacam ini. Keyakinan-keyakinan irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut. Ada beberapa jenis “pikiran­-pikiran yang keliru” yang biasanya diterapkan orang, di antaranya:
1. Mengabaikan hal-hal yang positif,
2. Terpaku pada yang negatif,
3. Terlalu cepat menggeneralisasi.
C. Proses konseling
1) Langkah pertama
Konselor berusaha menunjukkan bahwa cara berfikir klien harus logis kemudian membantu bagaimana dan mengapa klien sampai pada cara seperti itu, menunjukkan pola hubungan antara pikiran logis dan perasaan yang tidak bahagia atau dengan gangguan emosi yang di alami nya.
2) Langkah kedua
Menunjukkan kepada klien bahwa ia mampu mempertahankan perilakunya maka akan terganggu dan cara pikirnya yang tidak logis inilah yang menyebabkan masih adanya gangguan sebagaimana yang di rasakan.
3) Langkah ketiga
Bertujuan mengubah cara berfikir klien dengan membuang cara berfikir yang tidak logis.

4) Langkah keempat
Dalam hal ini konselor menugaskan klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata

Ж. Tujuan Konseling Rasional Emotif
Ellis menunjukkan bahwa banyak jalan yang digunakan dalam TRE yang diarahkan pada satu tujuan utama, yaitu : " meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik". Tujuan psikoterapis yang lebih baik adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri merka telah dan masih merupakan sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang dialami oleh mereka.
Ringkasnya, proses terapeutik terdiri atas penyembuhan irasionalitas dengan rasionalitas. Karena individu pada dasarnya adalah makhluk rasional dan karena sumber ketidakbhagiaannya adalah irasionalitas, maka individu bisa mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Proses terapi, karenanya sebagian besar adalah proses belajar-mengajar. Menghapus pandangan hidup klien yang mengalahkan diri dan membantu klien dalam memperoleh pandangan hidup yang lebih toleran dan rasional.Tujuan dari Rational Emotive Theory adalah:
  1. Memperbaiki dan mengubah segala perilaku yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan dirinya.
  2. Menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri sendiri.
Ж. Karateristik Rasional Emotif
v      Aktif direktif artinya dalam hubungan konseling atau terapeuitik, konselor atau terapis lebih aktif dalam membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
v      Kognitif rasional artinya hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional/masuk akal.
v      Emotif eksperiensial artinya hubungan yang dibentuk harus melihat aspek emotif klien dan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional.
v      Behavioristik artinya hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan perilaku dalam diri klien.
v      Kondisional artinya hubungan dalam rational emotif terapi dilakukan dengan membuat kondisi-kondisi tertentu terhadap klien melalui berbagai teknik kondisioning untuk mencapai tujuan terapi atau konseling.
D. Teknik-Teknik terapi
Terapi realitas bisa ditandai sebagai terapi yang aktif secara verbal. Prosedur – prosedurnya difokuskan pada kekuatan-kekuatan dan potensi-potensi klien yang dihubungkan dengan tingkah lakunya sekarang dan usahanya mencapai keberhasilan dalam hidup. Dalam membantu klien untuk menciptakan identitas keberhasilan, teapis bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut :
- Terlibat dalam permainan peran dengan klien.
- Menggunakan humor.
- Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun.
- Membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang sesifik bagi tindakan.
- Bertindak sebagai model dan guru.
- Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi.
- Menggunakan "terapi kejutan vebal" atau sarkasme yang layak untuk mengkonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis.
- Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif.
Manusia berfikir, berperasaan dan bertindak secara serentak. Kaitan yang begitu erat menyebabkan jika salah satu saja menerima gangguan maka yang lain akan terlibat sama. Jika salah satu diobati sehingga sembuh, dengan sendirinya yang dua lagi akan turut terobati.
Atas pandangan itu, walaupun TRE lebih menitikberatkan aspek kognitif dalam perawatan, tetapi aspek tingkah laku dan emosi turut diberi perhatian. Oleh sebab itulah dalam TRE, terdapat tiga teknik yang besar: Teknik-teknik Kognitif; Teknik-teknik Emotif dan Teknik-teknik Behavioristik.
1. Teknik-Teknik Kognitif
Teknik-teknik kognitif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berfikir klien. Dewa Ketut menerangkan ada empat teknik besar dalam teknik-teknik kognitif :
a. Teknik Pengajaran - Dalam RET, konselor mengambil peranan lebih aktif dari pelajar. Teknik ini memberikan keleluasan kepada konselor untuk berbicara serta menunjukkan sesuatu kepada klien, terutama menunjukkan bagaimana ketidaklogikan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosi kepada klien tersebut.
b. Teknik Persuasif - Meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya kerana pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Konselor langsung mencoba meyakinkan, mengemukakan pelbagai argumentasi untuk menunjukkan apa yang dianggap oleh klien itu adalah tidak benar.
c. Teknik Konfrontasi - Konselor menyerang ketidaklogikan berfikir klien dan membawa klien ke arah berfikir yang lebih logik.
d. Teknik Pemberian Tugas - Konselor memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata. Misalnya, menugaskan klien bergaul dengan anggota masyarakat kalau mereka merasa dipencilkan dari pergaulan atau membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan caranya berfikir.
2. Teknik-Teknik Emotif
Teknik-teknik emotif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah emosi klien. Antara teknik yang sering digunakan ialah:
a. Teknik Sosiodrama - Memberi peluang mengekspresikan pelbagai perasaan yang menekan klien itu melalui suasana yang didramatisasikan sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan atau melalui gerakan dramatis. (Teknik sosiodrama yakni: teknik yang diberikan kepada klien yang tertekan perasaannya (negative) dalam suasana didramatisasikan sehingga klien merasa bebas dalam mengekspresikan dirinya.)
b. Teknik 'Self Modelling' - Digunakan dengan meminta klien berjanji dengan konselor untuk menghilangkan perasaan yang menimpanya. Dia diminta taat setia pada janjinya. (Teknik self modeling yakni: teknik yang digunakan kepada klien membuat perjanjian serta mengadakan komitmen bersama konselor demi menghilangkan perasaan atau tingkah laku tertentu.)
c. Teknik 'Assertive Training' - Digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien dengan pola perilaku tertentu yang diinginkannya.  (Teknik assertive training yakni: teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien secara terus menerus menyesuaikan dirinya dengan pola perilaku tertentu yang diinginkan.)
d.Teknik behavioral yakni: teknik yang digunakan untuk mendorong klien kearah perilaku yang rasional dan logis, dengan memberikan pujian verbal ataupun punishment. Teknik ini dimaksud untuk membongkar system nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan system nilai yang positive.
e. Teknik Reinforcement - Mendorong klien ke arah perilaku yang diingini dengan jalan memberi pujian dan hukuman. Pujian pada perilaku yang betul dan hukuman pada perilaku negatif yang dikekalkan.
f. Teknik Social Modelling - Digunakan membentuk perilaku baru pada klien melalui peniruan, pemerhatian terhadap Model Hidup atau Model Simbolik dari segi percakapan dan interaksi serta pemecahan masalah.
Berdasarkan kepada penjelasan teknik di atas, dapat dilihat bahawa teknik terapi TRE ini bukan saja terbatas pada sisi konseling, tetapi juga berlaku di luar sesi konseling.
g.Teknik imitasi yakni: teknik yang digunakan untuk ditiru oleh kliensecara kontinu dengan maksud mengubah perilakunya sendiri yang negative.
h.Teknik sosial modeling yakni: teknik yang digunakan untuk membentuk perilaku-perilaku baru pada klien. Teknik ini dilakukan untuk klien dapat hidup dalam suasana model sosial yang diharapkan dengan cara mengimitasi, mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dengan sosial model yang dibuat.
iTeknik live model yakni: teknik yang digunakan untuk menggambarkan perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.
Neurosis adalah pemikiran dan tingkah laku irasional. Gangguan-gangguan emosional berakar pada masa kanak-kanak, tetapi dikekalkan melalui reindoktrinasi sekarang. Sistem keyakinan adalah penyebab masalah-masalah emosional. Oleh karenanya, klien ditantang untuk menguji kesahihan keyakinan-keyakinan tertentu. Metode ilmiah diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
Emosi-emosi adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Ellis menyatakan bahwa "gangguan emosi pada dasarnya terdiri atas kalimat-kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis dan tidak bisa disahihkan, yang diyakini secara dogmatis dan tanpa kritik terhadapnya, orang yang terganggu beremosi atau bertindak sampai ia sendiri kalah".
TRE berhipotesis bahwa karena kita tumbuh dalam masyarakat, kita cenderung menjadi korban dari gagasan-gagasan yang keliru, cenderung mendoktrinasi diri dari gagasan-gagasan tersebut berulang-ulang dengan cara yang tidak dipikirkan dan autsugestif, dan kita tetap mempertahankan gagasan-gagasan yang keliru dalam tingkah laku overt kita. Beberapa gagasan irasional yang menonjol yang terus menerus diinternalisasikan dan tanpa dapat dihindari mengakibatkan kesalahan diri.

satuan layanan



SATUAN LAYANAN BIMBINGAN

A.    Materi layanan : Pentingnya penyelenggaraan bimbingan karir di sekolah.
B.     Jenis layanan : Informasi
C.     Bidang bimbingan : bimbingan karir.
D.    Fungsi layanan : fungsi pemahaman
E.     Tujuan layanan :
1.      Tujuan umum :
Setelah menerima layanan ini siswa di harapkan dapat memahami pentingnya penyelenggaraan bimbingan karir sejak dini.
2.      Tujuan khusus :
Siswa diharapkan dapat :
-        Menjelaskan pengertian bimbingan karir.
-        Menyebutkan tujuan yang hendak dicapai dari penyelenggaraan bimbingan karir.
-        Menyebutkan fungsi bimbingan karir yang dilaksanakan.
F.      Rumusan kompetensi : siswa dapat memahami pentingnya penyelenggaraan bimbingan karir disekolah.
G.    Sasaran layanan : Kelas XII
H.    Uraian kegiatan dan materi layanan :
1.      Materi layanan :
-        Pengertian bimbingan karir.
Karir merupakan pekerjaan, profesi yang dimiliki seseorang (Hornby, 1957). Seseorang akan bekerja dengan senang hati, dengan penuh kegembiraan apabila apa yang dikerjakan itu memang sesuai dengan keadaan dirinya, sesuai dengan minatnya. Tetapi sebaliknya, apabila seseorang bekerja tidak sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya, maka dapat dipastikan ia akan kurang bergairah dalam bekerja, kurang senang dan kurang tekun. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa prinsip dasar agar seseorang dapat bekerja dengan baik, dengan senang dan dengan tekun diperlukan adanya kesesuaian antara tuntutan dari pekerjaan atau jabatan itu dengan apa yang ada dalam diri individu yang bersangkutan.
Perlu dikemukakan bahwa bimbingan karir merupakan salah satu aspek dari bimbingan dan konseling. Merupakan pandangan yang tidak tepat apabila menganggap bahwa bimbingan karir itu merupakan satu-satunya bimbingn yang perlu ditangani. Apabila dipandang bahwa bimbingan karir itu merupakan satu-satunya bimbingan yang perlu ditangani maka aspek atau jenis bimbingan yang lain ditinggalkan, padahal banyak masalah yang ada diluar bimbigan karir.
Merupakan suatu kenyataan para siswa yang tamat dari SMA maupun SMP ada yang tidak melanjutkan pendidikannya karena sesuatu sebab yang tidak dapat dihindarkan, misalnya karena kemampuan, biaya tidak ada, ataupun sebab-sebab yang lain. Karenanya para siswa itu membutuhkan bimbingan yang baik khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan.
-        Tujuan bimbingan karir
Didepan sudah dijelaskan apa sebenarnya yang ingin dicapai dalam bimbingan karir ini. Secara rinci tujuan dari bimbingan karir tersebut ialah membantu para siswa agar:
a.       Dapat memahami dan menilai dirinya sendiri, terutama yang berkaitan dengan potensi yang ada dalam dirinya, mengenai kemampuan, minat, bakat, sikap, dan cita-citanya.
b.      Menyadari dan memahami nilai-nilai yang ada dalam dirinya dan yang ada dalam masyarakat.
c.       Mengetahui berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan potensi yang ada dalam dirinya, mengetahui jenis-jenis pendidikan dan latihan yang diperlukan bagi suatu bidang tertentu, memahami hubungan usaha dirinya yang sekarang dengan masa depannya.
d.      Menemukan hambatan-hambatan yang mungkin timbul yang disebabkan oleh dirinya sendiri dan faktor lingkungan, serta mencari jalan untuk dapat mengatasi hambatan-hambatan tersebut.
e.       Para siswa dapat merencanakan masa depannya serta menemukan karir dan kehidupannya yang serasi, yang sesuai.(Depdikbud, petunjuk pelaksanaan bimbingan karir).
Dari uraian diatas nampak bahwa bimbingan karir merupakan usaha untuk mengetahui dan memahami diri, memahami apa yang ada dalam diri sendiri dengan baik dan dipihak lain untuk mengetahui dengan baik pekerjaan apa saja yang ada, persyaratan apa saja yang dituntut untuk pekerjaan itu. Apabila terdapat hambatan-hambatan, hambatan apa yang sekiranya ada dan bagaimana cara mengatasinya. Dengan mengatasi hambatan yang mungkin ada dan berarti salah satu masalah telah dapat diatasinya.
-        Fungsi bimbingan karir
Bimbingan karir ini perlu dan penting diberikan kepada para siswa, baik siswa SMP dan lebih-lebih SMA dengan alasan sebagai berikut:
v  Para siswa ditingkat SMA pada akhir semester dua perlu menjalani pemilihan program studi atau penjurusan. Walaupun ada kata memilih sebenarnya telah ada batas tertentu dalam pengambilan program, karena ada persyaratan terkait dengan prestasi akademik dari siswa yang bersangkutan. Dalam pemilihan ini diperlukan kecermatan dan perhitungan yang masak dan tepat. Oleh karena itu siswa memerlukan adanya bimbingan.
v  Kenyataan menunjukkan  bahwa tidak semua siswa yang tamat dari SMA akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Siswa yang akan lansung terjun kedunia kerja tentu memerlukan bimbingan karir ini agar siswa dapat bekerja dengan senang dan baik.
v  Siswa SMA merupakan angkatan kerja yang potensial. Merekalah yang akan menentukan bagaimana keadaan Negara yang akan datang. Mereka merupakan SDM dalam pembangunan. Karena itu diperlukan persiapan yang sebaik-baiknya untuk menghadapi masa depan, menyiapkan dengan baik pekerjaan-pekerjaan, jabatan-jabatan yang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.
v  Suatu kenyataan pula bahwa para siswa SMA sedang dalam masa remaja yang merupakan masa peraliahan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Pada umumnya mereka belum dapat mandiri, masih memerlukan bantuan dari orang lain untuk menuju kemandirian.
Siswa SMP juga membutuhkan bimbingan karir tersebut, baik untuk melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun untuk mencapai pekerjaan bila Karena sesuatu sebab tidak dapat melanjutkan sekolahnya.dengan demikian menjadi jelas manfaat bimbingan karir.




2.      Uraian kegiatan
No
Praktikan
Siswa
Waktu
1
Pengantar
Salam perkenalan
Menjelaskan topik yang akan dibahas:
-        Mengajukan pertanyaan pengertian bimbingan karir.
-        Menjelaskan jawaban siswa
Mendengar, mencatat dan menjawab pertanyaan.
10 menit
2
Menguraikan tujuan dari pelaksanaan bimbingan karir bagi siswa usia sekolah, khususnya SMP dan SMU.
Mendengar dan mencatat.
15 menit
3
Mengajukan pertanyaan untuk didiskusikan tentang fungsi bimbingan karir.
Diskusi dan melaporkan hasilnya.
10 menit
4
Kesimpulan
Bimbingan karir sangat penting diberikan kepada anak usia Sekolah terutama SMU dan SMP berkaitan dengan pemilihan jurusan yang sesuai dengan bakat, minat dan cita-citanya.
Mendengar dan mencatat.
5 menit

I.       Tempat : ruangan kelas
J.       Waktu : 1x 45 menit
K.    Semester : satu
L.     Penyelenggara layanan : konselor sekolah
M.   Pihak-pihak yang disertakan : Siswa-siswi yang menjadi sasaran layanan.
N.    Metode : ceramah, diskusi, dan Tanya jawab.
O.    Sumber bahan :
-        Bimbingan dan konseling studi dan karir, Bimo Walgito.2004
-        Bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir, Rudi Mulyatiningsih dkk. 2004
P.      Tindak lanjut




SATUAN KEGIATAN LANYANAN
PENTINGNYA PENYELENGGARAAN BIMBINGAN KARIR
DI SEKOLAH




UNIKA
 














ANGGOTA KELOMPOK

Hendra Denny Tefa
Hiasinta Marto Dempok


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA
KUPANG
2010